20140317170314175932_asap

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ketaping Sumatera Barat (Sumbar) melaporkan ketebalan kabut asap yang menyelimuti daerah Padang sejak tanggal 21 Oktober 2015 kian pekat dan menyebabkan jarak panjang semakin terbatas.
“Jarak pandang hanya 1.200 meter di Bandara Internasional Minangkabau, ini lebih pendek dibanding kemarin,” kata Analisis Cuaca BMKG Ketaping Neli Elvira saat dikonfirmasi dari Padang. Menurutnya kabut asap berasal dari kebakaran lahan yang masih terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi yang diembus angin hingga ke Sumbar.
Sedangkan Kasi Observasi dan Informasi BMKG Ketaping Budi Samiaji melaporkan jarak pandang di Kota Padang hanya sekitar 700 meter hingga 1.000 meter. Ini merupakan kondisi paling parah yang pernah terjadi karena bau asap tercium kuat hingga ke dalam rumah.
Sementara informasi kualitas udara berdasarkan pantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang, dilaporkan indeks standar pencemar udara berdasarkan konsentrasi PM 10 mencapai 438 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori berbahaya. Berdasarkan pantauan kabut asap yang menyelimuti Kota Padang terlihat lebih pekat dibanding hari sebelumnya sehingga matahari terlihat berwarna oranye.
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Padang, Sumatera Barat, Edi Hasimy mengatakan kualitas udara di kota itu sudah masuk dalam tingkat sangat tidak sehat. Dari pengujian kualitas udara terbaru yang dilakukan pada 22 Oktober 2015 pukul 08.00 WIB, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sudah mencapai 377 µg/nm3 yang artinya sudah masuk dalam tingkat Sangat Tidak Sehat. Ia menyebutkan ISPU Kota Padang saat ini merupakan yang paling tinggi dibandingkan dari sebelumnya, karena yang paling tinggi sebelumnya hanya 281 µg/nm3.

Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan mengenakan masker saat berada di luar ruangan, sebab selama ini masih banyak masyarakat yang tidak memakai masker ketika hendak keluar rumah. Upaya pemkot menyikapi kabut asap ini adalah dengan memberi imbauan dan ajakan dan itu akan terus kami lakukan. Selain itu ia meminta kepada RT dan RW untuk terus melakukan pengawasan kepada warganya untuk tidak membakar sampah, karena masih banyak warga yang saat ini membakar sampah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang, Eka Lusty mengatakan kondisi tersebut masih bisa ditanggulangi dengan menggunakan masker ketika akan keluar rumah, serta mengurangi aktivitas di luar rumah. Eka memaparkan seluruh masker berbagai jenis dan bentuk dapat mengantisipasi kabut asap, karena masker berfungsi untuk menyaring udara dan mengurangi dampak polusi yang masuk ke tubuh. Untuk pemakaian masker yang benar, warna hijau tua pada masker berada di dalam dan bagian berwarna puti berada di luar.

Ia menyebutkan sebanyak 22 puskesmas sudah menyediakan masker meski masih mengalami kekurangan, untuk saat ini sebanyak 80 ribu masker sudah menuju gudang farmasi. Dampak menghirup kabut asap cukup lama akan mengganggu kesehatan. Mereka yang mengalami sakit kronis, jantung serta alergi tersemasuk asma akan mengalami sesak nafas, sementara bagi yang tidak memiliki penyakit akan mengalami ISPA.

Sumber : AntaraSumbar.com